Christopher Daniel Sjarief pengemudi Outlander maut positif gunakan narkoba jenis lysergic acid diethylamide (LSD)

christopher daniel sjarief
Dari hasil uji tes urine yang dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN) pada Rabu (21/1/2015) Christopher Daniel Sjarief pengemudi Outlander maut positif gunakan narkoba jenis lysergic acid diethylamide (LSD), Christopher merupakan tersangka dari kejadian tabrakan maut di Pondok Indah yang menewaskan 4 orang tidak bersalah.

“Benar, positif menggunakan (narkoba),” ujar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Martinus Sitompul saat dihubungi, Rabu malam.

Menurut Wikipedia, LSD merupakan narkoba jenis halusinogen. Diperkenalkan sebagai obat dengan berbagai penggunaan psikiatrik pada 1947, LSD segera menjadi “agen” terapi yang tampak menimbulkan harapan besar.

LSD relatif bersifat tidak adiktif dan toksisitas rendah. LSD banyak dikenal atas efek psikologisnya yang menyebabkan tertutup dan terbukanya mata, perasaan distorsi waktu, kematian ego, dan pergeseran kognitif yang dalam.

Sementara itu, lanjut Martinus, mahasiswa salah satu kampus di San Francisco, Amerika Serikat, itu tidak mengonsumsi alkohol. Ia mengatakan, Christopher mengonsumsi barang tersebut pada Selasa (20/1/2015) sore sekitar pukul 17.30 WIB.

Ia mengonsumsinya bersama temannya, Muhammad Ali Husni Riza (22). Sementara itu, sopir Ali, Ahmad Sandi Illah (40), tidak ikut menggunakannya. Setelah itu, Ali dan Christopher menonton di XXI Pacific Place, SCBD. Mereka pulang dengan menumpang mobil berwarna putih tersebut yang dikemudikan oleh Sandi.

Namun, di tengah perjalanan, kedua pemuda itu terlibat cekcok mulut. Ali kemudian turun di Melawai dan Christopher diantar menuju rumahnya di Pondok Pinang. Namun, di tengah perjalanan, Christopher mengambil kemudi dari Sandi yang kemudian turun dari mobil.

Setelah mengambil kemudi, Christopher melaju dengan kecepatan tinggi dan terjadilah kecelakaan maut yang mengakibatkan tewasnya empat orang.

Apa itu Narkoba lysergic acid diethylamide (LSD)

Narkoba jenis LSD ini memang “kurang ramah di telinga”.

Pada 2013 lalu, Direktorat Narkoba Bareskrim Polri mengumumkan telah menemukan lagi penggunaan narkoba jenis itu.

LSD ditemukan polisi setelah keberadaannya hampir 23 tahun tidak lagi ditemukan di Indonesia. Penemuan LSD ini berawal dari pengungkapan kasus di Lapas Cipinang dengan tersangka HM (41). Dia mendapat empat lembar LSD dari seorang buronan berinisal ET.

LSD merupakan narkoba berbentuk kertas, yang digunakan pemakai dengan cara dimasukkan ke dalam mulut, lalu mencair dan menimbulkan efek seperti penggunaan narkoba umumnya.

Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigadir Jenderal (Pol) Arman Depari, Senin (11/11/2013), menuturkan bahwa LSD pernah berada di Indonesia pada 1990.

Sekilas dari wujudnya, LSD tampak tidak berbahaya karena hanya berbentuk kertas. Namun, kata Arman, efek yang ditimbulkan sama berbahaya dengan narkoba jenis lainnya. “LSD bentuknya hanya berupa kertas. Tetapi, ini golongan narkoba yang cukup berbahaya,” kata Arman.

LSD berbentuk lembar persegi berukuran sekitar 10 x 10 cm dengan isi sekitar 100 potongan kecil yang dapat disobek untuk digunakan.

Reaksi yang muncul, kata dia, sama dengan narkotika lainnya, yakni menyebabkan pengguna mengalami depresi dan juga halusinasi, euforia, dan juga kecanduan.

Barang haram itu, sebut Arman, memiliki nama lain, yakni Smile. “Pada kertas LSD, ada gambar naga terbang. Banyak beredar di Eropa dan Amerika,” ujarnya.

Iklan

Ditandai:, ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: